CSEAS Indonesia

admin

Bagaimana Cara Menggunakan Strategi “Nudging” dalam Mengurangi Plastik Sekali Pakai?

Kompasiana, 18 Maret 2023 – Satu juta botol plastik dibeli setiap menit, sementara hingga 5 triliun kantong plastik digunakan di seluruh dunia setiap tahunnya. Sayangnya, setengah dari semua plastik yang diproduksi dirancang hanya untuk sekali pakai.

Menurut Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, kita menghasilkan sekitar 400 juta ton sampah plastik setiap tahun.

Untuk meningkatkan fokus pada perubahan perilaku untuk mengurangi plastik sekali pakai, Center for Southeast Asian Studies (CSEAS), sebuah wadah pemikir terkemuka di Indonesia, baru-baru ini menyelenggarakan seminar bertajuk “Strategi “Nudging” untuk Pengurangan Penggunaan Plastik Sekali Pakai” di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) di Depok.

Pengurangan plastik sekali pakai merupakan langkah awal untuk mewujudkan Indonesia bebas plastik. Pengurangan dapat dicapai melalui berbagai cara, seperti nudge theory, yang merupakan pilihan baru dan layak.

“Nudge theory adalah suatu cara untuk mengubah perilaku individu dengan memberikan dorongan-dorongan persuasif dengan memberikan penekanan pada tiga aspek, yaitu psikologi, ekonomi, dan sosial. Konsep dorongan ini sesuai jika diterapkan dalam lingkup lingkungan, dengan penerapannya yang tidak mengikat pola perilaku individu seperti aturan dan larangan,” kata CSEAS dalam siaran persnya.

Tujuan utama dari seminar ini adalah untuk memberikan pengetahuan terkait nudge theory dalam penerapannya untuk mengurangi plastik sekali pakai, sekaligus upaya untuk menjalin kerjasama potensial dengan berbagai pihak dan pemangku kepentingan untuk mengatasi permasalahan sampah plastik sekali pakai.

Seminar tersebut menampilkan pembicara terkemuka dari dalam dan luar negeri seperti Dr. Atsushi Watabe, Programme Director of Sustainable Consumption & Production in the Institute for Global Environmental Strategies (IGES), Jo. Kumala Dewi, Direktur Kemitraan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ayako Mizuno, Programme Manager of Regional Knowledge Centre for Marine Plastic Debris (RKC-MPD) in the Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), Arisman, Direktur Eksekutif dari CSEAS, dan Dr. Nurul Isnaeni, Dosen Ilmu Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. 

Acara dapat disaksikan dengan mengklik tautan berikut ini: https://www.youtube.com/live/uabSxUeyEEs?feature=share 

Pada tahun 2019, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah mengeluarkan Permen LHK Nomor 75 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen. Peraturan tersebut bertujuan untuk melibatkan produsen agar ikut bertanggung jawab atas produksi kemasan mereka. Pengurangan sampah melalui produsen sebagai salah satu stakeholders merupakan satu dari banyak cara yang dapat dilakukan untuk menanggulangi permasalahan sampah.

Pada tahun 2023, IGES bekerja sama dengan ERIA, akan melakukan pilot project di berbagai negara ASEAN, seperti Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Filipina, yang bertujuan untuk mengurangi sampah mulai dari sampah plastik hingga makanan melalui pendekatan behavioral insight. CSEAS sebagai partner di Indonesia bekerjasama dan melakukan pilot di FISIP UI.

Behavioral insight penting untuk mengurangi sampah plastik di Indonesia.

“Tujuan pilot ini adalah bagaimana aplikasi behavior insight dalam pengurangan sampah plastik di Indonesia,” ujar Atsushi dalam sambutannya.

Dalam upaya mengurangi sampah plastik, kita bisa menggunakan cara khusus.

“Untuk mengatasi hal ini kita dapat memulai dengan metode 3M, yaitu Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal kecil dan Mulai dari sekarang,” kata Jo.

Perubahan perilaku juga berlaku bagi produsen plastik.

“Dalam penerapan behavior change, tidak hanya perilaku konsumen tetapi juga perilaku produsen,” jelas Arisman.

Ada juga peran mahasiswa yang harus dimainkan dalam mengurangi sampah plastik.

“Mahasiswa sebagai pemangku kepentingan terbesar di kampus harus ikut serta dalam mengurangi permasalahan sampah plastik,” saran Nurul.

Seminar dilanjutkan dengan kick-off meeting sebagai tanda pembuka atas berjalannya program intervensi pengurangan plastik sekali pakai yang akan dilaksanakan di kantin FISIP UI.

How to Reduce Single-Use Plastics Using The Nudging Strategy? – OpEd

Eurasiareview – One million plastic bottles are purchased every minute, while up to five trillion plastic bags are used worldwide every year. Unfortunately, half of all plastics produced is designed for single use.

From the 1950s to the 1970s, only a small amount of plastics was produced, hence why global plastic waste was relatively manageable. However, between the 1970s and the 1990s, plastic waste generation more than tripled due to a rise in plastic production. In the early 2000s, the amount of plastic waste generated increased more in a decade than it had in the previous 40 years. If historic growth trends continue, the global production of primary plastics is forecasted to reach 1,100 million tons by 2050. There is also a worrying shift towards single-use plastic products.

According to the United Nations Environment Programme, 400 million tons of plastic waste are produced every year. Approximately 36 percent of all plastics produced are used in packaging, including single-use plastic products for food and beverage containers, approximately 85 percent of which ends up in landfills or as unregulated waste.

It is estimated that 1,000 rivers are accountable for nearly 80 percent of global annual riverine plastic emissions into the ocean, which range between 0.8 and 2.7 million tons per year, with small urban rivers as the biggest polluter.

In countries with poor solid waste management systems, plastic waste – especially single-use plastic bags – can be found clogging sewers and providing breeding grounds for mosquitoes and pests, thereby increasing the transmission of vector-borne diseases like malaria.

To increase the focus on behavioral change to reduce single-use plastics, the Center for Southeast Asian Studies (CSEAS), a leading think tank in Indonesia, recently organized a seminar titled “Nudging Strategy for the Reduction of Single-Use Plastics” at the Faculty of Social and Political Sciences (FISIP) of the University of Indonesia (UI) in Depok, Indonesia.

The reduction of single-use plastics is the first step to creating a plastic-free Indonesia. Reduction can be achieved through various means, such as the nudge theory, which is a novel and viable option.

“The nudge theory is a method used to change individual behavior through persuasive encouragement, which emphasizes three aspects: psychological, economic, and social. This concept is appropriate for use in the environmental scope as its implementation does not restrict individual behavioral patterns, unlike rules and prohibitions,” the CSEAS said in a press release.

The nudge theory was popularized by behavioral economists Richard Thaler and Cass Sunstein in their seminal book “Nudge: Improving Decisions about Health, Wealth, and Happiness”. The foundational premise of a nudge involves designing or arranging the decision-making context in ways that promote behaviors that are in the interest of individuals. 

Nudging is an approach that is dependent on behavioral science, which uses subtle interventions to help people make better decisions. To be effective, a nudge must follow a two-step process: First, the target behavior needs to be identified. Second, a choice architecture (the context in which people make decisions) must be created or modified to make it easier for individuals to choose a better solution.

A nudge is to isolate a particular aspect of the choice architecture (e.g., the admission options displayed when a visitor first enters the museum) and consider how that element could be modified or controlled to guide an individual toward taking a desired action (e.g., changing the order of options for admission to present membership in the first position).

When designing a nudge within an existing decision environment, the choice architect makes changes by adding, removing, or adjusting elements that affect the decision-making process. Whatever the situation, there is no such thing as a neutral design – everything has the potential to influence decisions, for better or worse. 

The main purpose of the seminar, which was held on March 15, was to share knowledge on the nudge theory and its implementation in single-use plastic reduction as well as to build cooperation with various stakeholders to overcome the single-use plastic problem. 

The seminar presented several prominent speakers from Indonesia and other countries, such as Dr. Atsushi Watabe, Programme Director of Sustainable Consumption & Production at the Institute for Global Environmental Strategies (IGES), Jo Kumala Dewi, Director of Environmental Partnerships at the Indonesian Ministry of Environment and Forestry, Ayako Mizuno Programme Manager for the Regional Knowledge Centre for Marine Plastic Debris, or RKC-MPD, at the Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), Arisman, Executive Director of CSEAS, and Dr. Nurul Isnaeni, lecturer of International Relations Studies at UI.

The seminar can be accessed by clicking the following YouTube link: https://www.youtube.com/live/uabSxUeyEEs?feature=share 

In 2019, the Indonesian Ministry of Environment and Forestry issued the Ministerial Regulation No. 75 on the Roadmap to Waste Reduction by Producers. This regulation aims to encourage producers to become more responsible for their product packaging. Waste reduction by producers is one of many ways that can solve the waste problem.
In 2023, IGES, in collaboration with ERIA, will conduct a pilot project in various ASEAN countries, such as Indonesia, Thailand, Vietnam, and the Philippines, using a behavioral insight approach to reduce waste, ranging from plastic waste to food waste. As its partner in Indonesia, CSEAS will conduct the project at UI FISIP.

Behavioral insight is important to reduce plastic waste in Indonesia. “The purpose of this pilot study is to see how the application of behavioral insight affects plastic waste reduction in Indonesia,” Watabe said in his speech.

To reduce the plastic waste, a special method can be used. “To overcome this issue, we can use the 3M method: Start with Yourself, Start Small, and Start Now,” Jo said.
The behavioural change also applies to plastic producers. “The implementation of behavioural change does not stop at the consumer level; it applies to producer behavior as well,” Arisman said.

There is also a role to play by students in reducing plastic waste. “As the largest stakeholder in campuses, students must also become involved in reducing plastic waste,” Nurul suggested.

After the seminar, there was a kick-off meeting at FISIP to mark the beginning of the single-use plastic intervention program.

Circular economy approach can help reduce marine litter: officials

Bogor, West Java (ANTARA) – Indonesian government officials and scholars who joined a talk show organized as a pre-event to G20 meetings on Friday affirmed that adopting a circular economy approach could help reduce marine litter.

The talk show was organized by the Center for Southeast Asian Studies (CSEAS).

“I am confident that if we use the circular economy, it (plastic waste in oceans) will be reduced,” assistant deputy for waste management at the Coordinating Ministry for Maritime Affairs and Investment, Rofi Alhanif, said.

Besides Alhanif, the talk show, which took place on the Indonesian island of Bali on Friday, also featured several other prominent speakers.

They included Alvaro Zurita, team leader of the European Union-Germany project on “Rethinking Plastics: Circular Economy Solutions to Marine Litter”; Ujang Solihin Sidik, a senior official from the Ministry of Environment and Forestry; Raldi Hendro Koestoer, a professor at the School of Environment of the University of Indonesia; Arisman, executive director of CSEAS; and Roger Spranz, co-founder of Making Oceans Plastic Free.

The speakers shared a common concern with regard to marine litter in Indonesia since each year, the country produces 60 million tons of waste, 17 percent of which is plastic waste, the CSEAS said in a press statement issued after the talk show.

Most of this plastic waste will end up in the oceans. Marine litter can have a harmful impact not only on marine creatures but also human beings.

For dealing with the issue, CSEAS executive director Arisman highlighted the importance of waste segregation and segregated waste collection to reduce plastic waste.

“We need social capital in villages to implement the circular economy,” he said, adding that circular economy is a model of production and consumption, which involves sharing, leasing, reusing, repairing, refurbishing, and recycling existing materials and products for as long as possible.

The circular economy has three main principles: eliminating waste and pollution, circulating products and materials, and regeneration of nature.

Thus, plastic recycling is a crucial step toward a circular economy, but achieving circularity calls for action at every point in the lifetime of a product: from design to waste management, he argued.

Regarding the main objectives of the talk show, the CSEAS disclosed that it aimed to shed light on the policies and approaches of both the EU and Indonesia in advancing the circular economy of plastics to address the problem of marine litter.

The talk show also aimed to showcase the efforts taken by Indonesia and its several cities to address the problem of marine plastic litter and promote the implementation of a circular economy in Indonesia.

For Indonesia, which is holding this year’s G20 presidency, marine litter-related issues are important considering that the G20 countries, which are the largest economies in the world, account for approximately 75 percent of global material use and 80 percent of global greenhouse gas emissions.

In 2017, the G20 countries adopted the “G20 Action Plan on Marine Litter” at the Hamburg Summit.

After two years, they adopted the “Osaka Blue Ocean Vision,” which aims to reduce additional pollution by marine plastic litter to zero by 2050 through a comprehensive life-cycle approach.

In 2018, the EU set bold targets for plastic recycling quotas and recycled content requirements as part of its plastics strategy.

“It (extended producer responsibility or EPR) got more and more attention and there is momentum now in the region. When EPR is not questioned anymore, if it should be it is more and how?” said Zurita at the talk show.

Penggunaan Barang Daur Ulang Langkah Nyata Kurangi Sampah Plastik di Lautan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) mengungkapkan setiap tahun Indonesia menghasilkan 60 juta ton sampah dengan 17 persennya adalah sampah plastik yang sebagian besar berakhir di lautan. Padahal, sampah-sampah itu tidak hanya berbahaya bagi makhluk laut tetapi juga manusia.

Guna mencegah sampah-sampah berakhir di laut, pejabat pemerintah dan akademisi Indonesia yang mengikuti talkshow pra-pertemuan G20, Jumat (26/8/2022) menegaskan penerapan pendekatan ekonomi sirkular dapat membantu mengurangi sampah laut. “Saya yakin jika kita menggunakan ekonomi sirkular (sampah plastik di lautan) akan berkurang,” kata Asisten Deputi Pengelolaan Sampah Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Rofi Alhanif dalam talkshow ini diselenggarakan CSEAS.

Selain Alhanif, talkshow yang berlangsung di Pulau Bali, Indonesia, Jumat, juga menghadirkan beberapa pembicara terkemuka lainnya. Mereka termasuk Alvaro Zurita, pemimpin tim proyek Uni Eropa-Jerman tentang “Memikirkan Kembali Plastik: Solusi Ekonomi Sirkular untuk Sampah Laut”; Ujang Solihin Sidik, pejabat senior Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan; Raldi Hendro Koestoer, Guru Besar Sekolah Lingkungan Hidup Universitas Indonesia; Arisman, direktur eksekutif CSEAS; dan Roger Spranz, salah satu pendiri Making Oceans Plastic Free.

Para pembicara memiliki kepedulian yang sama terhadap sampah laut di Indonesia karena setiap tahun. Menyikapi hal tersebut, Direktur Eksekutif CSEAS Arisman menyoroti pentingnya pemilahan sampah dan pengumpulan sampah terpilah untuk mengurangi sampah plastik.

“Kami membutuhkan modal sosial di desa untuk menerapkan ekonomi sirkular,” katanya, seraya menambahkan ekonomi sirkular adalah model produksi dan konsumsi, yang melibatkan berbagi, menyewakan, menggunakan kembali, memperbaiki, memperbarui, dan mendaur ulang bahan dan produk yang ada selama mungkin.

Ekonomi sirkular memiliki tiga prinsip utama: menghilangkan limbah dan polusi, mengedarkan produk dan material, dan regenerasi alam. “Dengan demikian, daur ulang plastik merupakan langkah penting menuju ekonomi sirkular, tetapi mencapai sirkularitas memerlukan tindakan di setiap titik dalam masa pakai suatu produk: dari desain hingga pengelolaan limbah,” katanya.

Mengenai tujuan utama dari talk show tersebut, CSEAS mengungkapkan hal itu bertujuan untuk menjelaskan kebijakan dan pendekatan UE dan Indonesia dalam memajukan ekonomi sirkular plastik untuk mengatasi masalah sampah laut. Talkshow ini juga bertujuan untuk menunjukkan upaya yang dilakukan Indonesia dan beberapa kotanya untuk mengatasi masalah sampah plastik di laut dan mempromosikan penerapan ekonomi sirkular di Indonesia.

Bagi Indonesia yang menjadi presiden G20 tahun ini, isu terkait sampah laut menjadi penting mengingat negara-negara G20 yang merupakan ekonomi terbesar di dunia, menyumbang sekitar 75 persen penggunaan material global dan 80 persen emisi gas rumah kaca global. Pada tahun 2017, negara-negara G20 mengadopsi “Rencana Aksi G20 tentang Sampah Laut” di KTT Hamburg.

Setelah dua tahun, mereka mengadopsi “Osaka Blue Ocean Vision,” yang bertujuan untuk mengurangi polusi tambahan oleh sampah plastik laut menjadi nol pada tahun 2050 melalui pendekatan siklus hidup yang komprehensif. Pada tahun 2018, UE menetapkan target yang berani untuk kuota daur ulang plastik dan persyaratan konten daur ulang sebagai bagian dari strategi plastiknya.

“Ini (extended Producer responsibility atau EPR) semakin mendapat perhatian dan ada momentum sekarang di daerah. Ketika EPR tidak dipersoalkan lagi, apakah harus lebih dan bagaimana?” kata Zurita.

Combining waste sorting with segregated transport system needed: CSEAS

Bogor, W Java (ANTARA) – An environmental economist at the Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) highlighted the importance of combining waste sorting at homes and a segregated waste transport system to achieve sustainable waste management in Indonesia.

To this end, the CSEAS has conducted a pilot project in Kendalpayak Village, Malang District, East Java Province, the think tank’s environmental economist, Risman, noted in a press statement on Saturday.

The pilot project, conducted by the CSEAS along with the Malang District Environment Agency with support from the European Union and German Government (GIZ), was aimed at building local capacity for waste sorting at homes and implementing a segregated waste transport system, he remarked.

“This model can also be replicated in other regions of Indonesia,” according to Arisman, who is concurrently the Jakarta-based CSEAS’ executive director.

To wrap up the pilot project, a workshop titled “Empowering Local Capacity for Sustainable Waste Management and Extended Producer Responsibility toward Plastic Packaging” had been held at Malang’s Harris Hotel and Conventions on April 20, 2022.

At the workshop, a draft of policy recommendations and lessons obtained from the Kendalpayak project was presented to the Malang district administration.

Representatives from the German Government (GIZ), Ministry of Environment and Forestry, Ministry of Public Works and Housing, Malang District’s Environment Agency, 3Rs-based waste disposal facilities, waste banks, NGOs, plastic recycling companies, academicians, and local community figures participated in the workshop.

Renung from the Malang Regency Environment Agency was quoted in the press statement as saying that the pilot project served as a model and reference for revisions to the Regional Policy and Strategy (Jakstrada) on Household Waste Management and Similar Waste.

Indonesia has been striving to reduce waste entering landfills by 30 percent in 2025. The Indonesian Ministry of Environment and Forestry’s data revealed that plastics constituted 15 percent, or approximately 26.25 tons of the daily waste arriving in landfills.

To address this problem, the Indonesian Government has implemented various waste management regulations, including the Minister of Environment and Forestry Decree No.P.75/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2019 on the Roadmap of Waste Reduction by Producers (20202029).

The decree is aimed at minimizing product and packaging waste that expands the role of producers in the post-production process through the Extended Producer Responsibility (EPR) scheme, according to the press statement.

This EPR scheme is one of the main strategies used to reduce and manage packaging waste, especially plastics, in Indonesia. In this regard, local initiatives and the community play a crucial role in achieving sustainable waste management.

Each stakeholder plays an important role in making plans, programs, and concrete procedures that will accelerate and enhance waste management efforts, especially in Malang District, according to the press statement.

Perlu penelitian lanjutan dampak mikroplastik bagi Kesehatan

Jakarta (ANTARA) – Prof Sunardi dari Centre for Environment and Sustainability Science (CESS) Universitas Padjajaran (Unpad) mengatakan bahwa diperlukan penelitian lebih lanjut terkait bahaya mikroplastik khususnya dampaknya terhadap kesehatan manusia. “Beberapa penelitian menjelaskan efek negatif sampah mikroplastik bagi kesehatan manusia, antara lain mengganggu sistem saraf, memunculkan gangguan hormone dan kekebalan tubuh, hingga paling parah meningkatkan resiko kanker. Ini perlu penelitian lanjutan,” katanya pada kursus online terkait Analisis Mikroplastik di Bandung, Kamis.

Pada siaran pers Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) yang diterima di Jakarta, Kamis, Sunardi mengatakan, mikroplastik adalah potongan kecil berukuran kurang dari 5 milimeter yang dapat mencemari lingkungan dan makhluk hidup di dalamnya. Bahaya mikroplastik ini telah banyak ditemukan mencemari sungai-sungai di Indonesia.

Sementara Direktur eksekutif CSEAS Dr Arisman mendukung pendapat Prof Sunardi, di mana negara-negara ASEAN sudah mempunyai ASEAN Regional Action Plan for Combatting Marine Debris yang dalam dokumennya menjelaskan perlunya penelitian tentang mikroplastik secara regional khususnya ASEAN.

“Empat negara termasuk: China, Indonesia, Filipina, dan Vietnam adalah kontributor terbesar polusi plastik laut global, di mana tiga adalah negara anggota ASEAN,” katanya.

Ia menjelaskan, mikroplastik seringkali mengalir secara langsung maupun tidak langsung ke lingkungan perairan seperti sungai dan danau, dan akhirnya masuk ke laut.

Sekitar delapan juta ton sampah plastik dari daratan dilaporkan memasuki lautan setiap tahun atau setara dengan 15 ton sampah per menit.

Menurut Arisma, industrialisasi yang pesat dan pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota ASEAN dalam dekade terakhir, otomatis diikuti dengan peningkatan konsumsi dan memunculkan potensi timbulan sampah yang sangat besar tidak terakomodir dengan baik oleh pengembangan pengelolaan dan infrastruktur sampah yang efektif.

Oleh karena itu, CSEAS bekerjasama dengan CESS Universitas Padjadjaran d bawah Proyek Kerjasama ASEAN-Norwegia tentang Peningkatan Kapasitas Lokal untuk Mengurangi Polusi Plastik di kawasan ASEAN (ASEANO) mengadakan kursus online terkait Analisis Mikroplastik dengan tujuan untuk peningkatan kapasitas bagi para ahli mikroplastik.

“Kursus itu online itu untuk memperkuat penggunaan analisis mikroplastik dan untuk meningkatkan pengetahuan para pakar di Indonesia,” katanya.

Pada acara itu Dr Rachel Hurley dari Norwegian Institute of Water Research (NIVA) menjelaskan metode dan analisis mikroplastik yang mencemari perairan.

Ia juga bersedia untuk bekerja sama dengan lembaga riset atau universitas di Indonesia dalam rangka harmonisasi metode dalam bentuk kegiatan Interlaboratory Comparison (ILC).

Mikroplastik tidak hanya mencemari lingkungan saja, tetapi juga dapat mengganggu ekosistem di darat dan di laut. Bahkan, saking kecilnya ukuran sampah mikroplastik, tidak menutup kemungkinan bahwa sampah ini dapat terkonsumsi secara tidak sengaja oleh manusia, melalui hewan atau tumbuhan yang hidup di ekosistem yang tercemar.


Kurangi Sampah Plastik, APEKSI Beberkan Beberapa Tantangan

Katadata, 29 Mei 2022 – Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia atau Apeksi mengingatkan pemerintah untuk terus terlibat dalam penanganan dan pengolahan sampah plastik. Asosiasi juga berupaya mendorong potensi pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM ramah lingkungan.

Hal itu dibahas dalam lokakarya rangkaian HUT Apeksi ke-22 di Bandar Lampung, Sabtu (28/5). Forum tersebut, mayoritas dihadiri oleh para Kepala Dinas Perindustrian dan Kepala Dinas UMKM dari seluruh anggota Apeksi. Direktur Eksekutif Center for Southeast Asian Studies atau CSEAS, Arisman menyadari bahwa proyek penanggulangan sampah, terkhusus sampah plastik yang merupakan program jangka panjang. Untuk itu, diperlukan kerja sama dan konsistensi antar lembaga.

Dia menambahkan, Pemerintah tingkat lokal baiknya mengajak pihak industri untuk secara bersama menyelesaikan persoalan sampah plastik. Selain itu, pemerintah dinilai perlu membangun kepercayaan kepada pihak industri, bahwa program atau paket kebijakan yang progresif terhadap lingkungan tidak mengganggu bisnis mereka. “Langkah pendek sepertinya enggak ada ya. Ini langkah perjalanan, pola pikirnya harus diubah. Mungkin bisa edukasi ke industri lokal dan kecil, minimal mengurangi penggunaan plastik karena menghilangkan itu memang sulit,” kata Arisman. Berdasarkan laporan Minderoo Foundation Mei 2021, setiap warga Indonesia menghasilkan sembilan kilogram (kg) sampah plastik sekali pakai. Hal tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara dengan buangan sampah plastik sekali pakai per kapita terbesar keenam di Asia Tenggara pada 2019, setara dengan Filipina.

Sementara itu, Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina menyampaikan untuk mengurangi penggunaan plastik di wilayahnya. Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin mengadakan Program Pasar Bebas Plastik yang dimulai sejak akhir 2021. Program tersebut dilakukan di dua pasar tradisional, yakni Pasar Pandu dan Pasar Pekauman.

“Harus ada tindakan konkret yang dilakukan hari ini,” kata Ibnu saat menyampaikan presentasinya. Di samping itu, dibutuhkan juga kerja sama untuk menggerakkan minat, inisiatif dan kepedulian masyarakat terhadap potensi bahaya dari penggunaan plastik secara berlebihan. Jika ketiga hal tersebut sudah terbentuk dan dilakukan secara konsisten, Ibnu menilai program tersebut akan tumbuh menjadi budaya yang tak akan hilang, meskipun wali kota dan kepala dinas berganti.

“Memang harus ada pendekatan terus-menerus dengan para pedagang tradisional. Kalau tidak dilakukan secara konsisten, pelan-pelan akan hilang. Libatkan komunitas dan jangan bosan-bosan untuk menyapa para pedagang di pasar,” ujarnya.

Kehadiran program Pasar Bebas Plastik di Banjarmasin, diharapkan mampu mendorong seluruh pedagang dan konsumen mulai membiasakan diri untuk tidak lagi menggunakan plastik sekali pakai saat berbelanja. Apalagi setiap Pemerintah Daerah diwajibkan oleh Pemerintah Pusat untuk melakukan pengelolaan sampah sebesar 30% dan 70% untuk penanganan sampah. Pengelolaan sampah dirasa lebih sulit karena mengatur tentang produksi dan aspek pelarangan tertentu. “Harus berbicara dengan produsen karena akan ada aturan dan aspek pelarangan-pelarangan tertentu. Sedangkan yang 70 % ini sampah sudah jadi,” ujarnya. Ibnu menilai, harus ada inovasi pemilahan dan bank sampah non-organik. Di antaranya, seperti rumah cacah, dan pemberdayaan dasa wisma untuk membuat kompos skala rumahan. Dengan begitu, ada tindak lanjut dari penerimaan sampah plastik. Direktur Pengembangan Bisnis Indonesian Packaging Federation, Ariana Susanti mengatakan penanganan sampah plastik harus dimulai dari manajemen sampah dengan struktur paling rendah, yakni rumah tangga. Menurutnya, perlu adanya kolektifikasi dan pemilahan sampah yang memisahkan antara sampah plastik untuk diolah kembali.

Selain itu, perlu adanya sejumlah regulasi yang mengatur agar wacana yang hanya ramai di acara diskusi publik, bisa diterapkan di lapangan. Ariana mengatakan perlu adanya insentif bagi rumah tangga atau asosiasi yang menjalankan regulasi tersebut. Pemilahan sampah bisa dimulai dari lingkup rumah tangga. 

Tak hanya itu, upaya penanganan sampah di Indonesia juga memerlukan insentif. Berkaca pada Jerman dan Jepang, Ariana mengatakan kalau asosiasi pengolah sampah di sana memperoleh insentif. “Perlu adanya regulasi dan konkret. Perlu kampanye yang menyasar anak-anak muda yang saat ini peduli pada isu lingkungan,” ujar Ariana.

CSEAS gelar diskusi pengelolaan sampah di Jawa Timur

Jakarta (ANTARA) – Pusat Studi Asia Tenggara Indonesia (CSEAS) menyelenggarakan diskusi tentang pengelolaan sampah berkelanjutan di Jawa Timur, kata CSEAS dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.

Kegiatan itu merupakan bagian dari program “Rethinking Plastics” yang mendapat dukungan dari sejumlah lembaga internasional, termasuk Uni Eropa, badan pengembangan Jerman GIZ, dan badan publik Expertise France​​​​​​​

 Diskusi itu digelar secara berkelompok terarah (FGD) di Kabupaten Malang dengan mengangkat tema “Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengelolaan Sampah Berkelanjutan”, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas di tingkat lokal.

Program peningkatan kapasitas itu ditujukan untuk pengelolaan sampah secara berkelanjutan dan menargetkan tanggung jawab produsen secara luas terhadap kemasan plastik.

Tujuan dari kegiatan FDG itu adalah untuk mendapatkan informasi tentang praktik baik dan kebijakan terkini terkait pengelolaan sampah dan mengetahui langkah-langkah yang telah dijalankan atau sedang dijalankan oleh berbagai pemangku kepentingan dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Malang, serta menjalin kerja sama potensial dengan berbagai pihak dan pemangku kepentingan, kata CSEAS.

Kegiatan itu juga dihadiri oleh berbagai pihak yang memiliki andil dalam upaya pengelolaan sampah berkelanjutan di daerah itu, termasuk perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang, Organisasi Pemulihan Kemasan Indonesia (IPRO), bank sampah, lembaga swadaya masyarakat, perusahaan daur ulang plastik, akademisi, dan tokoh masyarakat.

Acara yang digelar di tempat pemrosesan akhir (TPA) Tulungagung itu menghasilkan kesepakatan berupa komitmen dari semua pihak untuk memainkan peran dalam mengelola sampah.

 

Selain gelaran FGD tersebut, CSEAS juga telah melakukan sejumlah program di bawah kerangka program pengelolaan sampah secara berkelanjutan, termasuk kegiatan aksi bersih-bersih di Desa Kendalpayak di Kabupaten Malang.

 

“Perlu komitmen semua pemangku kepentingan untuk menuju pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” kata Arisman selaku Direktur Proyek dari CSEAS.

 

CSEAS Ajak Produsen Kelola Sampah Secara Bertanggung Jawab

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pusat Studi Asia Tenggara Indonesia (CSEAS) menyelenggarakan diskusi tentang pengelolaan sampah berkelanjutan di Jawa Timur. Kegiatan itu merupakan bagian dari program “Rethinking Plastics” yang mendapat dukungan dari sejumlah lembaga internasional, termasuk Uni Eropa, badan pengembangan Jerman GIZ, dan badan publik Expertise France​​​​​​​.

Diskusi itu digelar secara berkelompok terarah (FGD) di Kabupaten Malang dengan mengangkat tema “Peran Pemangku Kepentingan dalam Pengelolaan Sampah Berkelanjutan”, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas di tingkat lokal. Program peningkatan kapasitas itu ditujukan untuk pengelolaan sampah secara berkelanjutan dan menargetkan tanggung jawab produsen secara luas terhadap kemasan plastik.

“Tujuan dari kegiatan FDG itu adalah untuk mendapatkan informasi tentang praktik baik dan kebijakan terkini terkait pengelolaan sampah dan mengetahui langkah-langkah yang telah dijalankan atau sedang dijalankan oleh berbagai pemangku kepentingan dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Malang, serta menjalin kerja sama potensial dengan berbagai pihak dan pemangku kepentingan,” kata Arisman, Direktur Proyek dari CSEAS.

 

Kegiatan itu juga dihadiri oleh berbagai pihak yang memiliki andil dalam upaya pengelolaan sampah berkelanjutan di daerah itu, termasuk perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang, Organisasi Pemulihan Kemasan Indonesia (IPRO), bank sampah, lembaga swadaya masyarakat, perusahaan daur ulang plastik, akademisi, dan tokoh masyarakat.

Acara yang digelar di tempat pemrosesan akhir (TPA) Tulungagung itu menghasilkan kesepakatan berupa komitmen dari semua pihak untuk memainkan peran dalam mengelola sampah. Selain gelaran FGD tersebut, CSEAS juga telah melakukan sejumlah program di bawah kerangka program pengelolaan sampah secara berkelanjutan, termasuk kegiatan aksi bersih-bersih di Desa Kendalpayak di Kabupaten Malang.

“Perlu komitmen semua pemangku kepentingan untuk menuju pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” kata Arisman, Direktur Proyek dari CSEAS.

 

Kemitraan Global Percepat Pembangunan Berkelanjutan

Percepatan ekonomi hijau terus ditularkan banyak negara, termasuk ke Indonesia. Diharapkan, kemajuan ekonomi Indonesia berpijak pada kegiatan ramah lingkungan serta menuju tujuan pembangunan berkelanjutan.

JAKARTA, KOMPAS – Kemitraan global telah mendorong percepatan ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan bagi sejumlah negara, termasuk Indonesia. Selain sektor lingkungan, program dari kemitraan global juga berdampak positif terhadap kesejahteraan ratusan ribu masyarakat di tingkat bawah.

Hal tersebut mengemuka dalam webinar bertajuk “Mempercepat Kemitraan P4G dan Kepemimpinan Indonesia dalam Pertumbuhan Hijau dan Tujuan Global 2030”, yang diselenggarakan Kedutaan Besar Korea Selatan, Selasa (23/2/2021). Webinar tersebut merupakan pra-acara untuk menyambut penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi P4G Seoul ke-2 yang akan digelar secara virtual pada 30-31 Mei di Seoul, Korea Selatan.

Direktur Global Partnering for Green Growth and the Global Goals (P4G) Ian de Cruz menyampaikan, program P4G telah mendorong percepatan ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan bagi negara-negara mitra, termasuk Indonesia. Sektor yang turut terdorong di antaranya energi, pangan dan pertanian, keuangan inovasi, dan industri pengelolaan sampah.

Kami membutuhkan negara-negara mitra untuk mereplikasi sejumlah program P4G di tingkat nasional seperti Indonesia sehingga P4G dapat terus memberikan dampak. (Ian de Cruz)

Saat ini, papar Ian, P4G telah menginvestasikan dana hingga 292 juta dolar AS untuk negara-negara mitra. Secara global, dampak dari kemitraan P4G antara lain telah mengurangi emisi hingga 110.000 metrik ton karbondioksida dan meningkatkan kesejahteraan lebih dari 500.000 orang di akar rumput.

“Kami membutuhkan negara-negara mitra untuk mereplikasi sejumlah program P4G di tingkat nasional seperti Indonesia sehingga P4G dapat terus memberikan dampak. Investor dan lembaga keuangan juga perlu berinvestasi bersama dengan P4G agar dapat meniru model bisnis yang lebih berkelanjutan,” katanya.

Direktur Sumber Daya Energi, Mineral, dan Pertambangan Kementerian PPN/Bappenas Yahya Rachmana Hidayat menyatakan, platform nasional P4G dapat diimplementasikan dalam kolaborasi antar pemangku kepentingan. Hal ini sekaligus juga dapat menjadi jalan bagi swasta untuk mendukung tujuan pembangunan nasional dan global.

Sejumlah hal yang akan ditindaklanjuti ke depan, kata Yahya, yakni memperkuat kerjasama P4G nasional dengan melibatkan sektor swasta dan masyarakat sipil guna menuju target pembangunan berkelanjutan (SDG) pada 2030. Kemitraan dalam P4G juga akan dikolaborasikan dengan sejumlah agenda di kementerian/lembaga terkait lainnya.

Indonesia merupakan salah satu dari 12 negara anggota kemitraan P4G yang didanai oleh pemerintah Denmark dan Belanda serta dioperasionalisasikan di World Resources Institute. Tahun lalu, Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) telah meluncurkan platform nasional P4G mendorong dan mempercepat pertumbuhan ekonomi hijau serta pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Saat ini P4G telah mendukung sejumlah kemitraan di Indonesia, di antaranya mulai dari akses pendanaan untuk investasi dalam efisiensi energi, pengurangan dan daur ulang sampah plastik, sertifikasi budidaya pertanian berkelanjutan, peningkatan akses investasi energi baru dan terbarukan, hingga pengurangan penggunaan plastik dalam kegiatan usaha.